Selasa, 17 Maret 2015

4_"Saat itu, 16 Juli 2013"


“elo mau kemana? Sore-sore gini?”
“bukber sama temen-temen tahun lalu,” oh. Ada dia dong?
“gue boleh ikut?” yes. Dia ngangguk. Di perjalananpun dia masih aja asik smsan sama sahabatnya. Tapi emang dilihat-lihat kayak lebih dari temen. Tapi nggak ada yang menyangkal.
Sampai dirumah temennya, gue ngerasa tangan dia gemeteran. Dan tepat saat itu ada suara sorak-sorak diluar rumahnya, memanggil-manggil nama sahabatnya. Wajah majikan gue sejenak langsung jadi aneh. Merekapun bertemu mata, cowok itu tersenyum padanya. Senyum yang di lemparkan sangat berbeda seperti yang ia berikan kepada teman-teman yang lainnya. Seolah ada pesan tersembunyi, seperti “hai, gue dateng nih,” yah, begitulah kira-kira. Mata gue tertuju lagi pada majikan gue. Gue merasa dia berusaha mengalihkan rasa salah tingkahnya. Tapi seperti ada yang aneh disini. Kenapa mereka harus menyembunyikan pertemanan mereka? Dan kenapa mereka tidak pernah mengobrol secara langsung? Gue nggak mengerti. Yang paling nggak gue ngerti, kenapa dia salah tingkah?
“kapan kita pulang? Ini udah terlalu malam,”
“mau foto-foto dulu sebentar,”
Ah, gue paling nggak suka acara kumpul-kumpul seperti ini. Bagaimana bisa dia yang selalu kesepian ini bisa tertawa-tertawa dengan teman-temannya? Iya juga ya. Teman-teman yang paling dekat dengannya saat itu, berbeda jurusan dengannya. Yah, mau diapakan lagi. Biarlah dia senang seperti ini. Dan lagi pula, gue suka kok dia ketawa bahagia gini.
Eh……
Merekapun mulai foto-foto. Majikan gue foto di paling belakang, dan disebelahnya ada cowok itu. tangannya gemetar.
“lo kenapa?”
“dingin tau,”
Yah, coba aja gue nggak nembus, bakal gue peluk beneran deh dia.

Eeeeh.....

Akhirnya acara selesai, ada yang pulang dan ada yang nggak. Tapi dia mutusin buat pulang karena gue terus ngerengek. Hahaha. Tapi ini udah gelap banget, mana jalan rayanya jauh, gelap pula. Gue juga ogah lewat situ, sepi banget!
“eh, bareng temen-temen lo sana, yuk,” kayaknya gue bener-bener dicuekin. Dia malah tatap-tatapan sama cowok itu, seolah ada pesan “gue pulang duluan ya,”
“gue berharap banget dia mau nganterin gue, Ja, sampe depan…” oh, ternyata bukan. Hahahaha. Yah, gue ngerti sih, dia pasti pengen ngobrol langsung sama cowok itu. dan nggak lama setelah itu, temennya yang lain –cowok-, nawarin diri buat nganterin sampai depan. Ah, syukurlah ada tebengan. tapi gue liat ada sedikit ekspresi kecewa di wajah dia. Akhirnya gue dan dia naik angkot. Sepanjang perjalanan, dia mandangin henpon terus. no message.
“lo kenapa lagi?”
“nggak tahu kenapa, gue agak nyesel nggak bisa ngobrol langsung. Kalau disekolah kita beda kelas, padahal ini kesempatan gue buat ngobrol karena lagi ada acara kumpul kayak gini,” gue jadi ikut sedih sebenernya. Dia juga udah dapet sahabat tapi malah terkesan jauh.
“yah, nanti juga ada waktunya kalian main bareng kok. Pertemanan kalian bukan sebatas ini kan?” syukurlah, dia senyum.
Sampai dirumah, gue udah nggak kuat lagi, gue capek, ngantuk. Tapi majikan gue masih nungguin henponnya yang nggak ada bunyinya sama sekali. Gue pamit buat istirahat dan dia hanya mengangguk.

Tengah malemnya, gue kebangun. Gue liat dia udah tidur pules dengan buku diary disebelahnya. Oh, ini buku yang pernah gue tulis-tulis surat buat dia. Dan ini buku diary udah ada sebelum dia kenal cowok itu. dia pernah bilang sama gue, dia bakal nulis pakai pulpen hijau kalau dia merasa senang, kalau dia sedang nggak enak hati, dia bakal pakai warna merah. Kecuali saat ngobrol sama gue, dia pakai merah dan gue hijau. Pas gue buka itu buku, di halaman terakhir yang dia tulis, TINTANYA MERAH SEMUA! Kampret, merinding banget gue. Isinya apaan nih 4 halaman pakai tinta merah semua. Gila, pantesan mukanya jelek banget. Ternyata begini perasaannya. Gue ragu buat baca isinya. Tapi… gue berhak tahu keadaan dia.
Aku selalu mencari sosoknya..
Satu-satunya penyemangatku untuk sekolah hanya dia..
Tapi aku tidak melihatnya. Pagi itu, karena aku terlambat.
Tapi aku tetap tidak melihatnya. Saat aku duduk didepan kelas. Mataku terus mencari sosoknya. Tapi tetap saja aku tidak melihatnya.
Aku bodoh. Untuk apa aku mencarinya?
hh.. aku hanya ingin melihatnya tersenyum. meski bukan denganku bahkan untukku. Melihatnya saja aku senang. Terlebih saat dia tersenyum dan mata kami bertemu. Saat itu aku tidak sadar. Aku sangat tidak menyadarinya. Dan tidak ada yang mengerti bahkan mengetahui bahwa aku menyukai senyumannya.
Akhirnya sore hari tiba.. aku tidak sabar untuk memandangnya. Tapi apakah ia terganggu.. saat aku melihatnya?
Karna aku tau. Jika laki-laki melakukan itu padaku, aku akan terganggu. Karna aku tidak menyukainya. Apakah ia terganggu… saat aku tersenyum untuknya?
Karna aku tau rasanya diperlakukan begitu, padahal tidak suka.
Aku rasa dia terganggu. Karna dia tidak menyukaiku. Aku tidak mengerti.
Aku selalu mencari sosoknya. Terus mencari tapi aku tidak melihatnya.. dia seperti menjauhi pandanganku.
Ya, mungkin dia terganggu.
Saat dia disebelah aku pun, aku tidak berani menatap matanya. Ini tuh apa?
Padahal dulu tidak begini.
Jika perasaanku sama seperti dulu, aku pasti dengan mudah berbicara dan mendekatinya.
“aku bisa merangkul tangan semua cowok, tapi aku tidak berani melakukannya pada cowok yang aku sukai”
Aku sangat ingat kata-kata itu. perkataan temanku, dan aku merasakan itu. walau bukan dalam bentuk rangkulan. Yang selalu kuingat, saat kami bertemu mata, kami selalu tertawa dan tersenyum. kenapa aku tidak bisa melupakan senyuman itu?
Aku terlalu senang. Aku senang tapi aku aku lebih merasakan sakit hati.
Kenapa aku jadi sangat menyukainya. Rasa suka yang melebihi rasa suka seorang teman.
Aku mengkhianati dia dan perasaan aku sendiri. Karna aku melanggar janji pada perasaan aku sendiri. Bahwa aku tidak aka menyukai seseorang melebihi rasa suka.
Aku berkata aku menyukainya karna dia temanku. Tapi aku… melebihi itu.
Foto bersama, tidak apa-apa aku tidak terlihat di belakang, karena saat itu dia ada disebelahku.
Jantungku sangat berisik. Tangannya berasa sangat dekat dengan tanganku.
Hati aku berbicara, ingin rasanya aku menyentuh tangannya. Mengenggamnya walau hanya sebentar. Sedetikpun taka pa.
Otakku bersikeras, apa hakku? Aku temannya. Dia tidak lebih dari seorang teman. Apa hakku?!
Aku tidak bisa. Tapi aku teringat perkataannya “pegangan aja sama aku…” aku senang. Tapi aku tidak bisa. Aku sungguh tidak bisa melakukan itu walau dengan izin… lagipula, dia sendiri yang bilang tidak bisa menyukaiku lebih dari teman.
Aku bodoh, aku harusnya tidak senang dengan kata-katanya. Yang makin membuatku jauh lebih dalam untuk menyukainya.
Dia tidak menyadari itu semua. Dia bahkan tidak peduli. Dia terganggu. Aku yakin dia terganggu.
Saat itu, aku ingin sekali diantar olehnya. Bukan karena ingin dapat enak, walau hanya dijalan yang dekat, aku tidak masalah. Diantar jalankaki juga tidak masalah. Karena..
Aku hanya ingin berada didekatnya, disebelahnya. Dan di dalam genggaman tanganku.
Tanpa disadari, tanpa ada persiapan, 
Aku telah jatuh cinta.
Kepada seseorang yang telah memiliki seorang kekasih.

Apa…?
*

3_He is a Boy. Why him? "Why not?"


“Kija,”
Suara ini. Udah lama nggak gue denger dia manggil nama gue.
“Gue boleh keluar?”
“ya,”
Ah. Udah lama banget gue nggak ditatap gini. Dia cerita kalau selama gue nggak ada, dia begini begini begini. Blo’onnya tetep. Padahal gue udah bilang kalau gue mantau dia terus.
“gue udah dapet temen, Ja. Dia baik banget sama gue, dia terima gue, kita sama, sependapat, kita udah saling curhat, gue nangis, dia nangis,” ah, sudahlah. Pura-pura nggak tahu aja.
“oh ya? Siapa dia?”
“cowok,”
“apa? Cowok? Kenapa harus cowok? Kenapa nggak cewek aja?” kalau yang ini sebenernya gue baru nyadar, kenapa harus cowok.
“kenapa nggak, selama kita bisa saling memahami?” dia emang nggak mau kalah. Sepertinya dia sudah bulat dengan keputusannya. “gue nyaman sama dia, Ja, dia juga sama kayak gue, dia butuh temen yang bener-bener bisa ada buat dia,”
Yah, mana bisa sih gue tolak. Ini buat kebahagiaan dia. Tapi harus tetep gue pantau. Tapi….
“yakin? Kalo tiba-tiba elo jatuh cinta gimana?”
“nggak. Kita udah ngelakuin banyak hal dan cerita selama elo nggak ada”
Sekali lagi. Dia emang bego. Lupa kalo gue mantauin dia.
“yah, yaudah kalo gitu, congrats ya. Jangan dilepas tuh sahabat lo yang udah kayak nyawa. Nggak sia-sia gue udah ngasih lo waktu,”
“iya,”
Gue liat ada senyum kebanggaan diwajah dia.
Pengen gue peluk, deh.
Eeeeeeh…
*
Kayaknya hubungan mereka makin akrab aja. Asyik banget smsannya, sambil ketawa-ketawa, kadang muka dia berubah jadi aneh. Dimanapun pegang henpon. Bahkan kayaknya dia enggak sadar gue ada disini. Kesel juga sih. Tapi kalau dia bahagia, gue turut serta deh. By the way… gue nggak punya data lengkap tentang si cowok itu.
“oi,”
Brengsek nih cewek. Lama-lama pengen gue serang.
Yah, emang greget juga sih. Gue berdiri dan meluk dia dari samping sambil ngeliatin henponnya.
“lo kenapa, Ja?” elo yang kenapa oi?!
“asyik banget sih, gue enggak di bagi-bagi,”
“yah, elo kan bagian dari gue, harusnya elo tahu apa yang gue rasain,”
Ya elo mikir aja Neng, gimana caranya gue tahu elo seneng kenapa. Gue nggak akan ngerti kalau elo nggak cerita. Dan lagi elo tuh cewek!
Sekarang raut wajah gue yang aneh.
“elo nggak perlu khawatir, Ja. Dia orang yang baik,” bukan itu masalahnya. Sekarang gue jadi dicuekin sama lo mentang-mentang elo udah punya temen curhat! Ah sial, kenapa gue nggak bisa bilang terus terang sih?
“yaudah deh, kalau ada apa-apa, cerita sama gue ya,”
Senyumnya bikin tenang. Tapi kenapa perasaan gue nggak tenang terus ya? Padahal gue bagian dari diri dia. Harusnya gue ngerasain yang dia rasain. Sebenernya tuh, gue bisa ngerasain perasaan dia atau enggak sih?
Atau, gue nggak bisa ngerasain, Cuma bisa mengerti?
Ah, ntahlah, gue bingung. Gue bukan cewek, mana bisa gue seneng juga karena cowo.
Dan ini bukan alasan karena gue cemburu ya.
*

2_"All We Need is Friend. Friend is All We Need"


Hampir satu bulan mereka jadian, gue udah nggak pernah ngekor dia lagi. Tapi saat itu, langit mendung, gue khawatir dia belum pulang. Kenapa gue khawatir? Toh ada cowoknya yang HARUSNYA bisa ngelindungin dia. Tapi gue modus aja jalan-jalan keluar, kali aja nemu.
Dan bener aja, dia lagi duduk dipinggir mall yang udah tua, rongsok, bangkrut, tak berpenghuni, bak gelandangan.

K : loh? Ngapain kamu duduk disini?
N : nunggu seseorang
K : oh pantesan aja sendirian.. Kau ini.. Hahaha
N : tadi ada di sini, tapi pergi.
K : loh, kalo udah pergi, kenapa di tungguin?
N : kupikir dia bakal balik lagi..
K : maksudmu?
N : kupikir dia bercanda, pergi tanpa kata2 yang jelas.. Hanya sebuah kalimat yang dia lontarkan. Kupikir dia akan membalikkan badan dan tersenyum kemudian berjalan lagi ke arahku. Tapi ternyata dia benar2 berlalu, terus berjalan tanpa menengok sedikitpun..
K : ...sudahlah...
N : ...aku berteriakpun tidak membuat langkahnya berhenti! Uh...
K : kau berulah apa lagi...?
N : tiba2 kondisiku lemah, aku gak mampu untuk tertawa.. Aku sengaja memancingnya, dan ternyata dia memang ingin pulang.. Dia menegurku, terus menegurku, tapi aku tak kunjung tersenyum... Aku sudah membuat lawakan, dia membalasnya, setelahnya aku tidak tertawa.. Bibirku berat untuk tersenyum, kepalaku ikut berat dan terus menundukkan kepala..
Hingga akhirnya dia pergi..
Aku... Se badmoodnya aku, kalau udah bertemu, aku ga akan ninggalin dia kyk gitu.. Aku mau pulang juga kaki aku berat, karna aku ga mungkin ninggalin dia dalam keadaan kyk gitu.. Aku berusaha ngumpulin suasana yg enak biar ga jadi suram.. Tapi aku ga nyangka dia pergi.. Aku ga bisa mikir..
K : pulanglah.. Kau terus duduk disinipun dia ga akan kembali..
N : aku tau... Kakiku masih tetap berat untuk melangkah pulang.. Dan aku masih tidak menyangka..
K : pulanglah, atau kamu aku tinggal
N : pergilah, aku masih menunggu
K : menunggu apa!?
N : hujan. Aku ingin hujan turun saat ini juga.. Aku ingin menangis di tempat. Dan takkan ada yang tau, benar kan?
K : Tuhan melihatmu
N : biarlah aku mencurahkan kepada-Nya
K : aku mengerti.

Dia pandai menggunakan kata kiasan disaat hatinya tersayat. Aku tidak mengerti. Apa yang ia pertahankan. Kenapa dia rela hatinya disayat kayak gitu. Tapi, gue nggak bisa diem aja. Gue diciptain, buat selalu ada disamping dia, nemenin dia, ngelindungin dia. Dan sekarang gue merasa tolol banget. Kenapa gue nggak ngekor aja, kenapa gue malah egois karena cemburu dia direbut, padahal harusnya gue ada dimanapun dia ada. Karena gue kan bagian dari diri dia.
“gue dituduh gue malu pacaran sama dia,” 
ah, baguslah, lebih cepat lebih baik.
Gue rasa dia emang kena karma, mungkin karena cowoknya yang dulu tuh setia banget, tapi dia masih labil. Gue juga gak ngerti majikan gue emang bener-bener kebangetan. Gatau mana yang serius apa nggak.
Dan yang perlu gue pertanyain, ini cewek emang udah kebal apa gimana ya?
Pas putus malah enjoy.
“gue nggak akan pacaran,” yep bagus lah, nggak ada yang gue khawatirin lagi.

Eh..

Ada sih… sebenernya.
Ternyata gue baru sadar, dia nyiptain gue karena dia nggak punya temen yang bener-bener deket banget sama dia. Yang bisa dia curhatin tiap saat, tanpa malu atau gengsi curhat soal cowok yang dia suka, tentang keluarga, semuanya. Jelas aja. Di SMA-nya, dia nggak kenal siapa-siapa. Nggak ada temen yang satu SMP sama dia. Apalagi dia pemalu, sulit bergaul. Yah, dia emang udah deket sama cewek yang waktu itu udah ngebela dia pas diputusin si cowok itu. tapi entah kenapa, dia selalu merasa segan sama temennya itu. apalagi temennya itu punya sahabat udh bertahun-tahun dari SMP. Dan dia masuk ke lingkaran mereka. Terkadang disitu gue merasa sedih ngeliat dia cuma plongo nggak ngerti temen-temennya ngomongin apa. Yah, mungkin emang bener kayak komik yang gue baca “disaat bertiga, pasti ada yang merasa tersisih” bahkan kalau di komik lebih parah, sampe ngutuk temennya biar salah satunya mati. Oke gue mulai merinding, majikan gue nggak kayak gitu.
Saat itu, adalah hari ujian kenaikan kelas 11. Dia tau mereka bakal berpisah, majikan gue masuk IPS dan temen-temennya masuk IPA. Gue rasa dia perlu berjuang lagi. Kelas baru, dan pencarian temen lagi.
“gue rasa perlu nyari temen, Ja. Gue bener-bener butuh,”
Gue nggak kuat ngedenger dia ngomong kayak gitu. Gue juga pengen dia nggak diem aja, gue pengen dia berusaha.
“elo mau nggak, ninggalin gue buat beberapa waktu? Jangan ikut urusan gue, jangan bantuin gue, gue mau berusaha sendiri…”
“tapi gue masih boleh mantau elo kan?” gue mulai gugup. Bukan Cuma dia yang butuh gue, gue juga butuh dia.
“iya,” akhirnya hari itu datang juga.

*

Dari pantauan gue, dia masih sendirian. Dia kayak orang bego nggak tahu arah. Ah, gue pengen banget negor dia. Tapi nanti gue disemprot.
Saat itu, dia lagi ulangan. Kasian banget majikan gue, lagi flu gitu, ingusnya kemana-mana. Anjrit, gue pengen ngakak.
Kruuuuuk..
Apaan tuh?
Gila. Suara perut lapernya kedengeran.

Ah… gue bosen. Mana nih perkembangan majikan gue? Kalau kayak gini terus jadi buang-buang waktu. Gue pengen muncul di hadapan dia. Mau ngecengin cewek juga gimana. Susahnya jadi cowok nggak jelas kayak gue.
Udah pulang lagi aja.

Hari itu pas malemnya dia main sama orang tua dan kakak ceweknya. Ah syukurlah, jadi dia nggak ngenes-ngenes amat. Eh, henponnya bunyi, ada sms. Dari siapa tuh?
“minta kisi-kisi geografi dong,” 
oh. Cowok itu, dia anak buahnya majikan gue. Dikelas dia ada ujian praktik seni, dia jadi ketua kelompok ngegambar. Ngomong-ngomong, majikan gue punya bakat gambar. Kadang orang-orang order lukisan ke dia. Oke balik lagi ke situasi. Kayaknya majikan gue kaget banget dapet sms itu, kenapa nanyanya ke dia, dan kenapa ngotot banget minta cepet-cepet dikasih, kenapa nggak minta orang lain aja sih? Yah kira-kira itulah yang dipikiran dia. Eh? Hah? Tunggu. Apaan tuh, majikan gue ketawa! Oh, ternyata cowok itu anak yang mustahil banget mau belajar pas ulangan. Dan karena dia nggak ada dirumah, smsannya terus berlanjut dan… ternyata mereka saling membuli. Kasian cowok itu, main buli-bulian sama majikan gue. Sekak lo yang ada.

Padahal gue nggak ikut main, Cuma ngekor doang. Tapi kok capek ya? Dia masih aja asik sama henponnya.
Udah berhari-hari gue mantau dia. Dia kayaknya makin deket ama cowok itu. setiap harinya smsan. Dan sepertinya dia merasa aneh kalau nggak smsan. Kayaknya gue udah mulai kepo stadium berapa tau. Gue ambil henponnya pas dia udah tidur. Gila. Ini sms apa cerpen? Panjang banget.
Lho?
Isinya curhatan. Semua kepedihan dan kesenangan dia ada disms itu. cowok itu juga sama. Mereka saling curhat. Dan sependapat semua… jangan-jangan?
*

Senin, 16 Maret 2015

1_2012


Nama gue Kija. Gue lahir di pertengahan tahun 2012. Ntah bagaimana bisa gue ada disini. Yang jelas, tanpa orang yang nggak jelas asal-usulnya, gue jadi ada disini. Gue juga nggak ngerti sebenernya gue ngomong apaan. Atau jangan-jangan gue yang nggak jelas asal-usulnya? Ya. Kayaknya sih begitu.
Dia, majikan gue, nyiptain gue pas dia umur 15 tahun jalan 16 tahun, kelas X. yeah, gue inget banget, saat itu tanpa sengaja dia ngegambar muka gue dengan sangar. Suasana hati dia lagi kacau kali ya, jadi di timpal ke gue. Dia bikin mata gue dengan lensa yang kecil. Tatto dimana-mana. Gigi taring panjang. Dan yang nggak gue habis pikir, dia ngegambar gue dengan telanjang dada. Gue nggak ngerti. Rambut gue gondrong waktu itu. dan yah, tanpa sadar gue jadi ngikut sama dia. Gue yang paling ngerti isi hati dia. Karena waktu dia nyiptain gue, dia keluarin seluruh perasaannya. Gue masih ada sampai sekarang. Udah 3 tahun ternyata. Tapi umur gue sama kayak dia. Hahahaha.
Majikan gue adalah orang galau terakut stadium ntah  berapa. Dia selalu ngegalauin cowok-cowok yang nggak jelas asal-usulnya –bukan gue-. Waktu itu pas gue muncul, dia lagi pacaran sama orang yang nggak gue kenal. Gue nggak tahu dia orang baik apa nggak. Tapi majikan gue fine-fine aja, yah gue anggep dia bahagia. Tapi nggak lama setelah gue lahir, ekspresi muka dia yang nggak jelas jadi makin nggak jelas! Dikamar ngeliatin henpon mulu. Gue kagak ngerti dia kenapa. Tapi kayaknya tadi gue bilang gue yang paling ngerti dia ya? Hahaha, mungkin untuk sebagian. Kalau keadaanya kayak gini sih kayaknya gue bakal kena semprot dia. Yah, easy going ajalah. Gue beraniin diri buat nanya, walau tampang gue serem, gue nggak ada apa-apanya –alias, menang tampang- dibanding dia.
“lo kenapa?” sial, suara gue gemeter.
no message,” hahaha sedikit lega sama jawabannya. /plak
“mungkin nggak ada pulsa,”
“kalau engga ada, harusnya dia negur gue di sekolah, bilang nggak ada pulsa atau apa gitu. Pas papasan sama mata gue, dia buang muka,”
Hahaha konyol. Di buang kemana?
“liat aja besok, kalo elo emang pacarnya, ya tegur duluan lah,” gue rasa saran gue diterima sama dia. Yah, syukurlah, gue tinggal ngekor besok ke sekolahnya. No comment. Nggak akan ada yang sadar sama kehadiran gue.
Besoknya, gue liat banyak yang tanya dia dengan pertanyaan yang sama “eh elo udah putus sama si G?”. gue liat dia nampak kebingungan. Nggak ada yang ngasih tahu kenapa mereka tanya kayak gitu. Pas udah dirumah, dia sms cowok itu lagi. Nggak ada balesan lagi. Okay.
Lho, lho? Kenapa dia tiba-tiba nangis? Kok gue ngerasa nggak berguna gini ya? Fuck man. Ternyata sms dari temennya, bilang kalo si cowok itu yang bilang kalo mereka udah putus. Brengsek. Apa-apaan tuh? Mutusin sepihak karena ada cewek cantik yang dia liat? Majikan gue emang kagak cantik, tapi dia cukup tulus buat sayang sama orang. Gue nggak ngerti. Gue naik pitam. Gue nggak rela majikan gue nangis karna cowok ga bertanggung jawab, seenaknya mainin perasaan dia.
“giliran gue sms ‘apa lo udah ga suka sama gue?’ dia ngebales smsnya ‘kalo iya? Kita putus aja ya’,” brengsek. Anjing. Sekacau-kacaunya majikan gue yang sering marahin gue, gue nggak rela kalau udah kayak gini urusannya. “mungkin ini karma buat gue, Ja,”
Karma sih karma, tapi yang jelas sekarang udah kejadian, sekarang tuh gimana ngobatinnya.
Ah, brengsek.
Karna waktu itu dia beda kelas ama cowok itu, temen majikan gue turun tangan. Maki-maki si cowok brengsek itu. bagus, gue suka itu cewek, lain kali minta kenalin ah –liat sikon-.
Majikan gue kayak orang tolol. Bikin puisi mulu. Udah gitu isi puisinya pake kiasan cicak segala.
“gak usah galau. Gue masih disini kok,”
Brengsek, dia nggak denger.
Aaaaah sial, gue jadi ketauan kasarnya.
Aaaah brengsek, gue ngomong sial lagi.
Eh…?
Tapi emang kenyataannya cowok itu brengsek kok. Nggak lama setelah itu dia minta balikan ke majikan gue. Hahahaha mane muke lo? Nggak tahu diri banget, ditolak ama cewek barunya ya? Hahaha.
“keparat. Dia pikir gue cewek apaan.”
Yes. Gue suka cewek gue ini pas lagi marah, kasarnya sama kayak gue.
Eh, maksudnya, majikan gue…
Dia pun bikin alesan males pacaran, nggak mau pacaran. Tapi itu cowok masih aja ngejar-ngejar, muja-muja nggak jelas, ngatur-ngatur, cemburuan tapi diliatin ke majikan gue yang udah bukan siapa-siapa dia lagi. Muke woooi.
Tapi cewek gu… majikan gue ini tetep tolol. Masih aja jalan ama cowok yang lain. Ama brondong pula. Gue nasihatin tapi dia malah sewot. Ah liat aja nanti, paling nggak akan pacaran.
Sialnya si cowok itu ngeliat majikan gue jalan ama cowok barunya, ya waktu itu belum pacaran sih. Emang kayaknya sih majikan gue nggak ada niatan buat pacaran ama bocah itu. ya terserah deh. Eh gue nggak cemburu.
Mereka sering main bareng tiap pulang sekolah, gue males buntutin orang pacaran, eh, nggak pacaran sih. Tapi tetep aja males. Eh, gue nggak cemburu loh.
“hehehe,” ini orang makin sinting aja. Udah gue duga, mereka jadian. Bangsat.
*