“elo mau kemana? Sore-sore gini?”
“bukber sama temen-temen tahun
lalu,” oh. Ada dia dong?
“gue boleh ikut?” yes. Dia
ngangguk. Di perjalananpun dia masih aja asik smsan sama sahabatnya. Tapi emang
dilihat-lihat kayak lebih dari temen. Tapi nggak ada yang menyangkal.
Sampai dirumah temennya, gue
ngerasa tangan dia gemeteran. Dan tepat saat itu ada suara sorak-sorak diluar
rumahnya, memanggil-manggil nama sahabatnya. Wajah majikan gue sejenak langsung
jadi aneh. Merekapun bertemu mata, cowok itu tersenyum padanya. Senyum yang di
lemparkan sangat berbeda seperti yang ia berikan kepada teman-teman yang
lainnya. Seolah ada pesan tersembunyi, seperti “hai, gue dateng nih,” yah,
begitulah kira-kira. Mata gue tertuju lagi pada majikan gue. Gue merasa dia
berusaha mengalihkan rasa salah tingkahnya. Tapi seperti ada yang aneh disini. Kenapa
mereka harus menyembunyikan pertemanan mereka? Dan kenapa mereka tidak pernah
mengobrol secara langsung? Gue nggak mengerti. Yang paling nggak gue ngerti,
kenapa dia salah tingkah?
“kapan kita pulang? Ini udah
terlalu malam,”
“mau foto-foto dulu sebentar,”
Ah, gue paling nggak suka acara
kumpul-kumpul seperti ini. Bagaimana bisa dia yang selalu kesepian ini bisa
tertawa-tertawa dengan teman-temannya? Iya juga ya. Teman-teman yang paling
dekat dengannya saat itu, berbeda jurusan dengannya. Yah, mau diapakan lagi. Biarlah
dia senang seperti ini. Dan lagi pula, gue suka kok dia ketawa bahagia gini.
Eh……
Merekapun mulai foto-foto. Majikan gue
foto di paling belakang, dan disebelahnya ada cowok itu. tangannya gemetar.
“lo kenapa?”
“dingin tau,”
Yah, coba aja gue nggak nembus,
bakal gue peluk beneran deh dia.
Eeeeh.....
Akhirnya acara selesai, ada yang
pulang dan ada yang nggak. Tapi dia mutusin buat pulang karena gue terus
ngerengek. Hahaha. Tapi ini udah gelap banget, mana jalan rayanya jauh, gelap
pula. Gue juga ogah lewat situ, sepi banget!
“eh, bareng temen-temen lo sana,
yuk,” kayaknya gue bener-bener dicuekin. Dia malah tatap-tatapan sama cowok
itu, seolah ada pesan “gue pulang duluan ya,”
“gue berharap banget dia mau
nganterin gue, Ja, sampe depan…” oh, ternyata bukan. Hahahaha. Yah, gue ngerti
sih, dia pasti pengen ngobrol langsung sama cowok itu. dan nggak lama setelah
itu, temennya yang lain –cowok-, nawarin diri buat nganterin sampai depan. Ah,
syukurlah ada tebengan. tapi gue liat ada sedikit ekspresi kecewa di wajah dia. Akhirnya gue dan dia naik angkot. Sepanjang perjalanan,
dia mandangin henpon terus. no message.
“lo kenapa lagi?”
“nggak tahu kenapa, gue agak nyesel
nggak bisa ngobrol langsung. Kalau disekolah kita beda kelas, padahal ini
kesempatan gue buat ngobrol karena lagi ada acara kumpul kayak gini,” gue jadi
ikut sedih sebenernya. Dia juga udah dapet sahabat tapi malah terkesan jauh.
“yah, nanti juga ada waktunya
kalian main bareng kok. Pertemanan kalian bukan sebatas ini kan?” syukurlah,
dia senyum.
Sampai dirumah, gue udah nggak kuat
lagi, gue capek, ngantuk. Tapi majikan gue masih nungguin henponnya yang nggak
ada bunyinya sama sekali. Gue pamit buat istirahat dan dia hanya mengangguk.
Tengah malemnya, gue kebangun. Gue liat
dia udah tidur pules dengan buku diary disebelahnya. Oh, ini buku yang pernah
gue tulis-tulis surat buat dia. Dan ini buku diary udah ada sebelum dia kenal
cowok itu. dia pernah bilang sama gue, dia bakal nulis pakai pulpen hijau kalau
dia merasa senang, kalau dia sedang nggak enak hati, dia bakal pakai warna
merah. Kecuali saat ngobrol sama gue, dia pakai merah dan gue hijau. Pas gue
buka itu buku, di halaman terakhir yang dia tulis, TINTANYA MERAH SEMUA! Kampret,
merinding banget gue. Isinya apaan nih 4 halaman pakai tinta merah semua. Gila,
pantesan mukanya jelek banget. Ternyata begini perasaannya. Gue ragu buat baca
isinya. Tapi… gue berhak tahu keadaan dia.
…
Aku
selalu mencari sosoknya..
Satu-satunya
penyemangatku untuk sekolah hanya dia..
Tapi
aku tidak melihatnya. Pagi itu, karena aku terlambat.
Tapi
aku tetap tidak melihatnya. Saat aku duduk didepan kelas. Mataku terus mencari
sosoknya. Tapi tetap saja aku tidak melihatnya.
Aku
bodoh. Untuk apa aku mencarinya?
hh..
aku hanya ingin melihatnya tersenyum. meski bukan denganku bahkan untukku. Melihatnya
saja aku senang. Terlebih saat dia tersenyum dan mata kami bertemu. Saat itu
aku tidak sadar. Aku sangat tidak menyadarinya. Dan tidak ada yang mengerti
bahkan mengetahui bahwa aku menyukai senyumannya.
Akhirnya
sore hari tiba.. aku tidak sabar untuk memandangnya. Tapi apakah ia terganggu..
saat aku melihatnya?
Karna
aku tau. Jika laki-laki melakukan itu padaku, aku akan terganggu. Karna aku
tidak menyukainya. Apakah ia terganggu… saat aku tersenyum untuknya?
Karna
aku tau rasanya diperlakukan begitu, padahal tidak suka.
Aku
rasa dia terganggu. Karna dia tidak menyukaiku. Aku tidak mengerti.
Aku
selalu mencari sosoknya. Terus mencari tapi aku tidak melihatnya.. dia seperti
menjauhi pandanganku.
Ya,
mungkin dia terganggu.
Saat
dia disebelah aku pun, aku tidak berani menatap matanya. Ini tuh apa?
Padahal
dulu tidak begini.
Jika
perasaanku sama seperti dulu, aku pasti dengan mudah berbicara dan
mendekatinya.
“aku
bisa merangkul tangan semua cowok, tapi aku tidak berani melakukannya pada
cowok yang aku sukai”
Aku
sangat ingat kata-kata itu. perkataan temanku, dan aku merasakan itu. walau
bukan dalam bentuk rangkulan. Yang selalu kuingat, saat kami bertemu mata, kami
selalu tertawa dan tersenyum. kenapa aku tidak bisa melupakan senyuman itu?
Aku
terlalu senang. Aku senang tapi aku aku lebih merasakan sakit hati.
Kenapa
aku jadi sangat menyukainya. Rasa suka yang melebihi rasa suka seorang teman.
Aku
mengkhianati dia dan perasaan aku sendiri. Karna aku melanggar janji pada
perasaan aku sendiri. Bahwa aku tidak aka menyukai seseorang melebihi rasa
suka.
Aku
berkata aku menyukainya karna dia temanku. Tapi aku… melebihi itu.
Foto
bersama, tidak apa-apa aku tidak terlihat di belakang, karena saat itu dia ada
disebelahku.
Jantungku
sangat berisik. Tangannya berasa sangat dekat dengan tanganku.
Hati
aku berbicara, ingin rasanya aku menyentuh tangannya. Mengenggamnya walau hanya
sebentar. Sedetikpun taka pa.
Otakku
bersikeras, apa hakku? Aku temannya. Dia tidak lebih dari seorang teman. Apa hakku?!
Aku
tidak bisa. Tapi aku teringat perkataannya “pegangan aja sama aku…” aku senang.
Tapi aku tidak bisa. Aku sungguh tidak bisa melakukan itu walau dengan izin…
lagipula, dia sendiri yang bilang tidak bisa menyukaiku lebih dari teman.
Aku
bodoh, aku harusnya tidak senang dengan kata-katanya. Yang makin membuatku jauh
lebih dalam untuk menyukainya.
Dia
tidak menyadari itu semua. Dia bahkan tidak peduli. Dia terganggu. Aku yakin
dia terganggu.
Saat
itu, aku ingin sekali diantar olehnya. Bukan karena ingin dapat enak, walau
hanya dijalan yang dekat, aku tidak masalah. Diantar jalankaki juga tidak
masalah. Karena..
Aku
hanya ingin berada didekatnya, disebelahnya. Dan di dalam genggaman tanganku.
Tanpa
disadari, tanpa ada persiapan,
Aku
telah jatuh cinta.
Kepada
seseorang yang telah memiliki seorang kekasih.
Apa…?
*